Ini mungkin salah satu pertanyaan paling penting yang pernah saya terima sejak membangun Destiny Matrix Indonesia dan jujur saja, saya memahami mengapa pertanyaan ini muncul.
Ketika seseorang mendengar kata "angka", "tanggal lahir", atau "Destiny Matrix", tidak jarang yang langsung menghubungkannya dengan ramalan sementara dalam iman Katolik, praktik ramalan merupakan sesuatu yang perlu disikapi dengan sangat hati-hati.
Karena itu saya merasa perlu menjelaskan secara terbuka bagaimana saya memandang Destiny Matrix dan bagaimana metode ini digunakan di Destiny Matrix Indonesia.
Bukan untuk meyakinkan siapa pun tetapi agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Mengapa Banyak Orang Menganggap Destiny Matrix Bertentangan dengan Iman?
Kalau kita melihat berbagai akun Destiny Matrix yang beredar di internet, kekhawatiran tersebut sebenarnya cukup masuk akal.
Banyak konten yang membahas hal-hal seperti :
- Kapan menikah.
- Kapan bertemu jodoh.
- Kapan kaya.
- Kapan memiliki anak.
- Prediksi masa depan.
- Peristiwa yang akan terjadi pada usia tertentu.
Bahkan ada yang mencoba membaca nasib seseorang hanya berdasarkan angka tertentu.
Jika Destiny Matrix digunakan seperti itu, saya pribadi memahami mengapa banyak orang beriman merasa tidak nyaman. Karena fokusnya bergeser menjadi upaya mengetahui hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali manusia.
Padahal dalam iman Katolik, masa depan berada dalam penyelenggaraan Tuhan.
Bukan dalam perhitungan manusia.
Cara Saya Melihat Destiny Matrix Berbeda
Sejak awal membangun Destiny Matrix Indonesia, saya memilih pendekatan yang berbeda. Saya tidak melihat Destiny Matrix sebagai alat untuk meramal.
Saya tidak menggunakannya untuk memprediksi :
- Kapan seseorang menikah.
- Kapan seseorang memiliki anak.
- Kapan seseorang menjadi kaya.
- Kapan seseorang meninggal.
- Peristiwa spesifik yang akan terjadi di masa depan.
Bukan karena saya tidak mau.
Tetapi karena saya memang tidak percaya bahwa saya memiliki otoritas untuk mengetahui hal-hal tersebut.
Bagi saya, itu adalah wilayah yang menjadi hak prerogatif Tuhan.
Dan saya tidak ingin menempatkan diri seolah-olah memiliki kuasa atas sesuatu yang bukan menjadi bagian saya.
Destiny Matrix Sebagai Alat Kesadaran Diri
Di Destiny Matrix Indonesia, saya lebih melihat Destiny Matrix sebagai alat refleksi diri.
Mirip seperti ketika seseorang mengikuti tes kepribadian, menjalani sesi coaching, atau melakukan refleksi mendalam mengenai kehidupannya.
Fokusnya bukan pada :
"Apa yang akan terjadi?"
Tetapi pada :
"Siapa saya?"
"Apa kekuatan saya?"
"Tantangan apa yang sering berulang dalam hidup saya?"
"Kebiasaan apa yang perlu saya perbaiki?"
"Potensi apa yang belum saya gunakan dengan baik?"
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak berusaha mengambil alih peran Tuhan.
Sebaliknya, pertanyaan tersebut membantu seseorang bertumbuh dalam kesadaran diri.
Saya Tidak Menganggap Angka Menentukan Nasib
Ini juga penting untuk dijelaskan.
Saya tidak percaya bahwa angka menentukan hidup seseorang.
Saya tidak percaya bahwa seseorang pasti gagal hanya karena memiliki angka tertentu.
Saya juga tidak percaya bahwa seseorang pasti sukses hanya karena memiliki kombinasi angka tertentu.
Manusia tetap memiliki kebebasan untuk memilih.
Manusia tetap memiliki tanggung jawab atas keputusannya.
Dan manusia tetap memiliki kesempatan untuk bertumbuh, berubah, serta memperbaiki dirinya.
Dalam pandangan saya, angka hanyalah alat bantu untuk melihat pola.
Bukan penentu takdir.
Tentang Kehendak Bebas dan Penyelenggaraan Tuhan
Salah satu hal yang sangat saya hargai dalam iman Katolik adalah pemahaman mengenai kehendak bebas.
Tuhan memberikan manusia kebebasan untuk memilih. Kita tidak hidup seperti robot yang seluruh hidupnya sudah ditentukan secara kaku. Karena itu saya juga tidak pernah menganggap hasil analisis Destiny Matrix sebagai vonis kehidupan.
Saya lebih melihatnya sebagai bahan refleksi. Sesuatu yang dapat membantu seseorang mengenali dirinya dengan lebih baik agar dapat mengambil keputusan yang lebih bijaksana.
Tetapi keputusan akhirnya tetap berada pada orang tersebut.
Dan hasil akhirnya tetap berada dalam penyelenggaraan Tuhan.
Apakah Gereja Katolik Mendukung Destiny Matrix?
Menurut saya, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah :
"Apakah Gereja mendukung Destiny Matrix?"
Melainkan :
"Bagaimana Destiny Matrix digunakan?"
Karena alat yang sama bisa digunakan dengan cara yang berbeda.
Jika digunakan untuk meramal masa depan, mencari kepastian tentang hal-hal yang hanya diketahui Tuhan, atau menggantikan kepercayaan kepada Tuhan, tentu perlu disikapi secara kritis.
Namun jika digunakan sebagai sarana refleksi diri, mengenali pola hidup, memahami kekuatan dan kelemahan diri, serta membantu membuat rencana hidup yang lebih baik, maka konteksnya menjadi berbeda.
Karena yang dicari bukan pengetahuan tersembunyi tentang masa depan melainkan pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri.
Pertanyaan yang Saya Selalu Kembalikan Kepada Diri Sendiri
Sebagai orang yang bekerja di bidang ini, saya memiliki satu pertanyaan yang selalu saya pegang :
"Apakah saya sedang membantu seseorang mengenal dirinya lebih baik, atau saya sedang berusaha mengambil peran yang bukan milik saya?"
Jika suatu hari saya mulai merasa bisa menentukan masa depan orang lain, mengetahui kapan mereka menikah, kapan mereka meninggal, atau hal-hal lain yang berada di luar kapasitas manusia, maka saya rasa saya sudah berjalan terlalu jauh.
Karena saya bukan Tuhan.
Dan saya tidak pernah ingin menempatkan diri di posisi tersebut.
Kesimpulan
Apakah Destiny Matrix bertentangan dengan iman Katolik?
Setiap orang tentu perlu menjawab pertanyaan itu berdasarkan iman, hati nurani, dan keyakinannya masing-masing. Namun yang bisa saya sampaikan adalah bagaimana saya menggunakan metode ini di Destiny Matrix Indonesia.
Saya tidak menggunakan Destiny Matrix untuk meramal masa depan.
Saya tidak menggunakannya untuk memprediksi kapan seseorang menikah, memiliki anak, menjadi kaya, atau meninggal dunia.
Saya tidak menganggap angka sebagai penentu nasib.
Dan saya tidak percaya bahwa saya memiliki kuasa untuk mengetahui hal-hal yang menjadi hak Tuhan.
Saya menggunakan Destiny Matrix sebagai alat refleksi diri, alat kesadaran diri, dan alat untuk membantu seseorang menyusun Life Plan yang lebih selaras dengan dirinya.
Karena pada akhirnya, tujuan terbesar dari mengenal diri bukanlah mengetahui masa depan melainkan menjalani hidup hari ini dengan lebih bijaksana, lebih sadar, dan lebih bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil.

0 Comments:
Post a Comment